Sabtu, 28 Oktober 2017

ARTI DAN SEJARAH HALAQAH

Oleh: Ummu Hasnaa Fajriah Nur, S.Pd.I.
Arti Halaqoh    
    Kata halaqah berasal dari bahasa arab yaitu halaqah atau halqah yang berarti lingkaran. Kalimat halqah min al-nas  artinya kumpulan orang yang duduk.[1]
       Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang menyebutnya dengan usrah(keluarga), karena metode halaqah ini lebih bersifat kekeluargaan.
        Ada pula yang menyebutnya dengan liqa’. Sedangkan dalam bahasa Jawa, halaqah ini lebih dikenal dengan wetonan atau bandongan.
    Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah(lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil Muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta mereka dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi/naqib yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah tersebut. Di beberapa kalangan, halaqahdisebut juga mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.[2]
    Menurut Hanun Asrohah halaqah adalah proses belajar mengajar yang dilaksanakan murid-murid dengan melingkari guru yang bersangkutan. Biasanya duduk dilantai serta berlangsung secara kontinu untuk mendengarkan seorang guru membacakan dan menerangkan kitab karangannya atau memberi komentar atas karya orang lain.[3]
     Sedangkan menurut Hasbullah, metode halaqah atau wetonan adalah metode yang di dalamnya terdapat seorang kyai yang membaca kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kiyai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif.[4] 
   Tidak jauh berbeda, Haidar Putra Daulay dalam bukunya Sejarah Pertumbuhan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia menuturkan, wetonan atau bandonganadalah metode kuliah di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai. Kyai membacakan kitab yang dipelajari saat itu, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan.[5]
   Halaqah merupakan kumpulan individu yang berkeinginan kuat untuk membentuk kepribadian muslim secara terpadu yang berlandaskan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Oleh karena itu peranan halaqah sangat penting dalam tujuan pembentukan kepribadian muslim, yang pelaksanaannya berlandaskan kepada contoh Nabi ` dalam membina para sahabatnya. Halaqah sebagai perisai pelindung bagi pesertanya dari pengaruh eksternal yang kotor. Masing-masing peserta terikat hubungan persaudaraan yang mendalam seperti keluarga. Halaqah juga merupakan kumpulan individu yang mempunyai kepentingan yang sama untuk meningkatkan iman dan amal saleh. [6]
     Pendidikan melalui sistem halaqah ini mengembangkan program yang berkelanjutan sehingga memperoleh suatu interaksi dengan Islam secara intensif. Pematangan kejiwaan, pemikiran, akidah, dan pematangan perilaku merupakan kegiatan berkelanjutan. Pematangan secara berkelanjutan ini hanya dapat dilakukan dengan sarana halaqah.[7]
   Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa halaqah merupakan sekumpulan individu muslim yang bersungguh-sungguh dan berusaha untuk tolong menolong sesama anggota halaqah untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam secara menyeluruh yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah `. Hal ini sejalan dengan firman Allah l dalam QS. Al-Maidah: 2,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب  

….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Sejarah Halaqah
Ummu Hasnaa 3Halaqah sudah dimulai sejak awal Islam. Sebagaimana diketahui, Mekkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadahan terhadap Kakbah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan bangsa Arab tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari keadaan lingkungan bangsa Arab. Hal ini membutuhkan usaha yang keras maka, dalam menghadapi kondisi seperti itu, tindakan yang paling bijaksana adalah tidak terkejut karena tiba-tiba mnghadapi sesuatu yang menggusarkan bangsa Arab.[8]
    Pada awal dakwah Islam di Mekkah, Rasulullah SAW menampakkan Islam kepada orang yang paling dekat dengannya, anggota keluarganya dan sahabat-sahabat karib Rasulullah SAW.  Rasulullah mendakwahkan mereka dan juga siapa saja yang memang diketahui mencintai kebaikan, kebenaran, dan kejujuran beliau.
    Rasulullah SAW menemui dan mengajarkan Islam kepada mereka secara sembunyi-sembunyi, hal ini dilakukan karena untuk menjaga keselamatan masing-masing. Rasulullah membuat pertemuan-pertemuan di rumah beberapa sahabat. Yang masyhur dalam proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam ini  dilakukan di rumah al-Arqam. Di dalam majlis ini, terdiri dari beberapa orang sahabat. Rasulullah ` sendiri yang lebih banyak mendidik dan membentuk mereka agar memiliki kepribadian yang Islami. Melalui halaqah pertama ini terbentuklah sekelompok orang mukmin yang senantiasa bahu-membahu untuk untuk menegakkan kalimat Allah.
    Pada periode dakwah di Madinah, halaqah pertama kali dilakukan di masjid. Nabi  SAW melakukan tugas mendidik umat melalui halaqah di masjid yang menyatu dengan rumah beliau pada waktu-waktu yang dipilih. [9] Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Nabi SAW membuat sela-sela (lingkaran) dalam ceramah pada hari-hari tertentu demi menghindari kebosanan. (HR. Bukhari No.66) 
    Dalam halaqah, Nabi ` menyampaikan materi ilmu yang beragam. Namun yang paling diutamakan oleh Nabi adalah mengajarkan al-Qur`an.[10] M. Alawi al-Makki mengatakan:
Pada majelis-mejelis halaqah kenabian dipelajari ilmu-ilmu dasar beserta kaidah-kaidahnya, seperti berbagai macam fadhilah, wawasan pemikiran, akhlak, tradisi yang baik, dan faedah-faedahnya yang besar, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Kami akan menuturkan sebagian dari apa yang dipelajari para sahabat pada halaqah agung yang mulia tersebut. Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya ilmu dasar terpenting di situ adalah al-Qur`an al-Karim.[11]
   Pada zaman tabi’in, terdapat halaqah-halaqah ilmu di Madinah Munawwarah yang memakmurkan masjid Nabawi yang mulia. Di masjid itu para ulama yang langka dari para pembesar tabi’in berkumpul sebagaimana kumpulan gugusan bintang-bintang yang bersinar di jantung langit. Ada halaqah yang dipimpin ‘Urwah bin az-Zubair, ada halaqahyang dipimpin Said bin al-Musayyib, dan ada halaqah yang dipimpin Abdullah bin ‘Utbah.[12]
   Menurut Satria Hari Lubis, dalam bukunya Menggairahkan Perjalanan Halaqah, halaqah berawal dari berdirinya jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M. di Mesir, Hasan al-Banna sangat prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang jauh dari nilai-nilai Islam. Al-Banna berusaha keras mengembalikan umat kepada agamanya. Dari pengamatannya yang mendalam, al-Banna pun sampai pada satu kesimpulan bahwa hal ini disebabkan kaum muslimin tidak terdidik secara Islami. Lalu al-Banna pun mengenalkan sistem pendidikan alternatif yang harus dilakukan oleh anggota jamaahnya. Sistem tersebut disebut dengan sistem usrah. Anggota jamaah dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan tingkat pemahamannya terhadap Islam.[13]
   Dengan dibimbing oleh seorang naqib, para anggota Ikhwanul Muslimin saat itu secara serius mempelajari Islam yang berorientasi pada pengamalan Islam. hasilnya, jamaah Ikhwanul Muslimin saat itu dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai j metode halaqah bagi pendidikan akhlak Islami ummahat amaah yang anggotanya sangat konsisten menegakkan Islam di dalam diri dan masyarakat. Sepeninggal Hasan al-Banna, sistem usrah dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sistem ini akhirnya menyebar dengan berbagai modifikasinya ke berbagai gerakan Islam lainnya.[14]
    Di Nusantara, sistem halaqah ini dikategorikan dalam sistem pembelajaran tradisional. Sistem halaqah ini sudah mulai diterapkan sejak masuknya Islam di Nusantara. Pada awalnya diterapkan di masjid-masjid, surau, dan langgar-langgar yang merupakan cikal bakal lahirnya pesantren. Seiring perkembangan zaman,  pesantren juga ikut mengalami perkembangan, berupa lahirnya berbagai inovasi baru dalam dunia pendidikan pesantren. Tapi ada hal yang merupakan ciri khas yang tidak bisa lepas yaitu penerapan sistem halaqah dalam pembelajaran di pesantren, meskipun sudah ada  sistem pembelajaran klasik atau madrasah.[15]
   Kini fenomena halaqah/usrah menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walaupun mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah/usrah yang pesat tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan halaqah/usrah dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertakwa kepada Allah . Saat ini halaqah/usrah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Di dalam halaqah tidak lagi melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah/usrah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.[16]

Kamis, 26 Oktober 2017

Makna Kun Fayakun

Bukankah Tuhan itu apabila menghendaki maka segala sesuatunya akan terwujud? Bukankah apabila Tuhan berkata kun (jadilah) fayakun (maka jadilah)? Lantas mengapa langit dan bumi diciptakan dalam waktu enam atau tujuh hari? Bukankah hal ini berseberangan dengan kudrat dan kekuasaan Tuhan?

Kekuasaan tidak terbatas dan apa yang didefinisikan tentang kudrat dan kekuasaan Tuhan bermakna bahwa apabila Dia menghendaki melakukan sesuatu maka Dia akan melakukannya dan apabila enggan melakukan sesuatu maka Dia tidak akan mengerjakannya. Tiada satu pun yang keluar dan berada di luar wilayah kekuasaan Allah Swt di alam semesta ini.

Adapun bahwa alam semesta diciptakan dalam waktu enam hari atau dengan ungkapan yang lebih tepat dalam enam tingkatan pada hakikatnya tidak berseberangan dengan kekuasaan dan kudrat Allah Swt; karena dengan melewati enam tingkatan ini bagi penciptaan alam semesta tidak bermakna bahwa Allah Swt tidak berkuasa menciptakannya dalam satu waktu; artinya penciptaan seketika alam semesta oleh Tuhan bukanlah suatu hal yang mustahil. Mengingat bahwa mekanisme yang berlaku di alam semesta adalah mekanisme sebab akibat dan berada di bawah aturan hukum kausalitas dan Tuhan tidak ingin melakukan sesuatu kecuali dengan sebab-sebabnya, maka, dengan beberapa alasan yang tidak kita ketahui secara pasti, alam semesta diciptakan dalam waktu enam hari. Namun yang pasti penciptaan gradual ini sepenuhnya disebabkan oleh tipologi yang dimiliki alam semesta bukan karena kekuasaan dan kudrat Allah Swt. 

“Huwalladzi khalaqa al-samawat wa al-ardh fi sittati ayyamin.”

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari.” (Qs. Hud [11]:7)

Pertama-tama yang dimaksud dengan hari bukanlah satuan waktu dua puluh jam yang kita lalui sehari-hari. Karena pada waktu itu bumi dan matahari belum lagi diciptakan sehingga bumi mengelilingi dirinya di hadapan cahaya matahari sehingga kita menyebut rotasi tersebut sebagai sehari. Hari dalam ayat  yang dimaksud merupakan ungkapan tentang masa dan tingkatan dan penggalan waktu dari zaman. Apa yang dijelaskan ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat bahwa bumi diciptakan dalam enam tingkatan dan terkait dengan hal-hal detilnya pada setiap tingkatan dan bagaimana proses terjadinya tidak ada yang dapat kita pahami dari firman Allah Swt. Yang paling maksimal yang dapat kita petik dari ayat-ayat al-Qur’an adalah pertama bahwa penciptan langit dan bumi tidaklah berbentuk dan seperti kondisi yang sekarang ini kita saksikan. Keberadaannya tidak bersifat mendadak dan muncul dari ketiadaan, melainkan diciptakan dari sesuatu yang lain dimana sesuatu tersebut sebelumnya telah ada dan hal itu adalah sebuah materi yang mirip bagian-bagian dan bertumpuk-tumpuk satu dengan yang lain kemudian Allah Swt membagi-bagi materi padat ini, dan bagian-bagian tersebut dipisahkan dari yang lain. Dari satu bagiannya, dalam dua penggalan waktu bumi dibuat dan kemudian menciptakan langit yang kala itu masih berupa asap (dukhan),[1] bagian-bagian tersebut juga dipisah-pisahkan dan pada dua penggalan waktu kemudian berbentuk tujuh petala langit.  

Yang lainnya bahwa seluruh entitas dan makhluk hidup yang kita saksikan diciptakan dari air, karena itu materi air (tentu saja air ini bukan air yang kita sehari-hari konsumsi) merupakan materi kehidupan setiap makhluk hidup. Dengan penjelasan di atas menjadi jelas ayat yang menjadi obyek bahasan, oleh itu, al-Qur’an menyatakan, “Huwalladzi khalaqa al-samawat wa al-ardh fi sittati ayyamin” (Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari) yang dimaksud dengan menciptakan langit dan bumi pada ayat ini adalah mengumpulkan bagian-bagian kemudian memisahkannya dengan materi-materi lain yang mirip satu dengan yang lain kemudian memadatkannya satu dengan yang lain.[2]

Hingga kini makna penciptaan alam semesta yang terjadi selama enam hari menjadi jelas. Sekarang tiba gilirannya kita membedah makna kun (jadilah) fayakun (maka jadilah ia) bahwa pada hakikatnya apa sih makna huruf ini? Al-Qur’an menyatakan, “Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun.” (Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia,” Qs. Yasin [36]:82).

Ayat mulia ini merupakan salah satu ayat unggul al-Qur’an yang mendeskripsikan kalimat pengadaan dan penjadian dan menyatakan, “Allah Swt dalam menjadikan dan mengadakan segala sesuatu yang kejadiannya dikehendaki, tidak membutuhkan kepada sesuatu yang lain kecuali kepada Zat-Nya sendiri, bukan bahwa sebab tersebut secara mandiri menjadikan sesuatu juga bukan membantu Tuhan dalam penjadiannya, atau menyingkirkan penghalang terealisirnya kehendak Tuhan.

Yang dimaksud dengan redaksi “amr” pada ayat yang menjadi obyek bahasan adalah “sya’n” (urusan, kedudukan) artinya ayat tersebut ingin menandaskan, “Urusan (kedudukan) Tuhan tatkala menghendaki penciptaan satu makhluk dari seluruh makhluk adalah demikian, bukan bermaksud amr (perintah) sebagai lawan nahi (larangan). Tatkala Tuhan ingin menciptakan satu entitas (makhluk) maka Dia menggunakan kalimat “amr.” Karena itu, makna kalimat “idzâ aradâ” adalah bahwa tatkala segala sesuatu berada dalam obyek kehendak Tuhan, maka sya’n (kedudukan atau urusan) Tuhan adalah berkata kepada sesuatu tersebut untuk menjadi (kun) dan maka jadilah ia (fayakun). Namun yang menjadi titik tekan di sini bukan lafaz “kun” melainkan kehendak (iradah) Tuhan. Demikian juga dalam kondisi ini obyek bicara Tuhan juga bukanlah obyek yang memiliki indra pendengaran dan mendengarkan pembicaraan dengan dua telinganya kemudian mengada, lantaran apabila obyek bicara sudah mewujud (sebelumnya) maka tidak perlu lagi diwujudkan.  Karena itu, ayat yang menjadi obyek bahasan merupakan sebuah firman yang mengandung analogi dan karena Zat Allah Swt apabila mengendaki wujudnya segala sesuatu maka tanpa ada jeda dan selisih akan segera mewujud.[3]

Dari satu sisi juga, apa yang dianugerahkan dari sisi Allah Swt, tidak memerlukan waktu dan jeda, juga tidak menerima adanya perubahan dan pergantian, demikian juga tidak bersifat gradual. Apa pun yang kita saksikan secara gradual, memerlukan waktu dan jeda pada seluruh entitas dan makhluk sejatinya bersumber dari entitas itu sendiri dan bukan berasal dari sisi Allah Swt.

Shafwan bin Yahya berkata, aku berkata kepada Hadhrat Abi al-Hasan As: Tolong Anda jelaskan tentang kehendak Tuhan dan penciptaan-Nya. Beliau berkata, “Kehendak pada kita makhluk bermakna keinginan batin dan intrinsik yang sebagai ikutannya muncullah perbuatan dari kita. Namun kehendak Allah Swt bermakna pengadaan dan penjadian perbuatan bukan selainnya, karena  Allah Swt tidak perlu berpikir dan merenung sebelumnya. Dia tidak seperti kita yang memerlukan keputusan sebelum setiap pekerjaan dilakukan dan kemudian memikirkan bagaimana merealisasikannya. Sifat seperti ini tidak terdapat pada Allah Swt dan merupakan salah satu tipologi makhluk.

Oleh itu, kehendak Tuhan adalah perbuatan itu sendiri bukan yang lain. Dia berkata kepada perbuatan tersebut, “Jadilah (Kun) maka perbuatan itu akan menjadi (fayakun). Adapun kita berkata, “Berkata kepadanya” (an yaqula) bukan perkataan dengan ekspresi dan bahasa, bukan juga keputusan dan produk pikiran, sebagaimana Dia tidak memiliki kualitas, perbuatan-Nya juga tidak memiliki kualitas.[4]

Karena itu, apabila kita berkata bahwa Allah Swt menciptakan alam semesta dalam enam hari maka pertama-tama hal itu tidak bermakna bahwa penciptaan tersebut secara gradual terjadi dari sisi Allah Swt dan perbuatan-Nya adalah bersifat gradual dan sebagai kesimpulannya karena Allah Swt tidak mampu menciptakannya dalam satu waktu maka kekuasaannya terbatas dan untuk menciptakan Dia memerlukan terlewatinya waktu. Sifat gradual ini sejatinya bersumber dari makhluk yang dalam ini adalah alam semesta dan bukan bersumber dari Allah Swt. Karena sebagaimana yang telah dijelaskan kapan saja Allah Swt menghendaki wujudnya sesuatu maka segera ia akan mewujud (fayakun). Apa yang Anda nyatakan bahwa hal ini berasal dari sisi Tuhan, sama sekali tidak bermasalah. Benar bahwa Tuhan mampu menciptakan alam semesta dalam satu waktu namun mengingat alam materi mengikut mekanisme sebab akibat dan tunduk di bawah aturan hukum kausalitas dan Allah Swt enggan melakukan sesuatu kecuali dengan sebab-sebabnya[5] atas alasan itulah berdasarkan kemasalahatan-kemasalahatan yang juga kita tidak ketahui secara persis alam semesta diciptakan dalam enam tingkatan, boleh jadi pada setiap tingkatan bergantung pada tingkatan-tingkatan sebelumnya atau dalil-dalil lainnya... namun apa yang penting di sini adalah Tuhan mahakuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang memiliki kemungkinan eksistensial untuk mewujud.[6] [IQuest]

Selasa, 24 Oktober 2017

Uhibbuki Ya Ummi

Ummi, sebenarnya tak harus menunggu hari ibu untuk kami bisa mengungkapkan cinta..
Duhai Mama, Ibu, Bunda, Ummi apapun namamu kami sebut,
Adalah panggilan rindu kami akan belai cintamu

Cintamu bukan cahaya matahari meskipun sama-sama tak harap balas,
Karena cintamu tak terasa panas menyengat kulit kami.
Cintamu bukan embun pagi meskipun sama-sama indah bening dan lembut,
Karena cintamu tegar dan kuat membuat kami nyaman di pelukmu

Allah Rabb kami telah menitipkan diri ini padamu
Dan tubuh kecil kami datang merepotkanmu, membuatmu lelah
Membuat istirahat malammu tidak nyenyak..
Dan hanya sesekali membuatmu menangis haru bahagia


Kami memohon maaf padamu Mama, Bunda, Ummiku..

Yang surga ada di telapak kakimu
Yang menurut Sabda Rasulullah, dirimu adalah pintu tengah surga yang dimudahkan
Maafkanlah khilaf kami, keluh kesah kami padamu
tak setianya cinta kami padamu
Tak sempurnanya kami menemani harimu
Tak adanya pundak kami disampingmu
Dan untuk rasa terimakasih yang kadang kami lupa ucapkan 

Terimakasih untuk Ummi yang telah menjadi jalan kasih sayang Allah,
Untuk Mama yang telah menjadi jalan kami mengenal Allah pencipta kami
Hingga kami pun berdoa kepadaNya untuk mu mama.

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang..

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


Ya Allah sayangilah Mama,  
Kaffahkanlah Islamnya,
Kuatkan imannya, luruskan akidahnya
Jadikanlah di hatinya hanya ada Engkau ya Allah
Mencukupkan hanya diriMu tempatnya mengadu
hapus air matanya saat ia bersedih
Sembuhkanlah ia saat ia sakit, 
tegarkan hatinya saat mulai lemah
berikanlah ia SurgaMu ya Rabb, jauhkanlah ia dari api nerakamu, dan kumpulkanlah kami di dalam surgaMu
amiin ya Rabb.
Kami titip Bunda kami pada penjagaan yang sempurna dariMu..

Mama, Bunda, Ummi apapun kami sebut untuk menyatakan kerinduan belai cintamu,
Kami ingin mengucapkan Ana uhibbuki fillah (aku mencintaimu karena Allah), dan Moga Bunda di sayang Allah.

Jumat, 20 Oktober 2017

Arti Ana / Inni Uhibbuka / Uhibbuki Fillah

إني أحبك في الله

Inni uhibbuka fillah atau Inni uhibbuki fillah. Apa arti dari kata-kata tersebut.

Inni uhibbuka fillah: sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah (diucapkan kepada ikhwan)
Inni uhibbuki fillah: sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah (diucapkan kepada akhwat)

Ana uhibbuka fillah artinya aku mencintaimu karena Allah. Dhommir (kata ganti) ‘ka’ untuk kamu laki-laki, sedangkan ‘ki’ untuk kamu perempuan.

(Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku karena-Nya).

Doa Balasan Uhibbuka/Uhibbuki Fillah – إني أحبك في الله

Jawaban atau balasan untuk saudaramu yang mengucapkan inni uhibbuka fillah ( إني أحبك في الله )

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ

“Ahabbakalladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya)[1]
HR. Abu Dawud. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Keterangan:
Arti:
إِنِّ أُحِبُّكَ فِي اللهِ
“Sesungguhnya aku cinta kepadamu karena Allah”
Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Inni Uhibbuka Fillah

Salah satu perintah dalam Islam adalah menyatakan cinta karena Allah. Namun tentu saja cinta bukan dinyatakan pada lawan jenis yang tidak halal karena adanya godaan besar di balik itu.

Ini hanya berlaku untuk sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan selama aman dari fitnah dan tidak menimbulkan persangkaan yang tidak-tidak di hati keduanya. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (247/1), beliau berkata: “Apabila seorang wanita memiliki perasaan cinta (baca: simpati) kepada wanita lain maka hendaknya dia beritahukan kepadanya”.

Maka tidak diperbolehkan seorang laki-laki mengatakan “Aku mencintaimu karena Allah” kepada seorang wanita kecuali jika wanita tersebut adalah istrinya atau mahram-nya yang lain. Dan tidak pernah kita jumpai satupun dari para sahabiyah Nabi yang mengatakan ungkapan tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal Allah telah menjadikan kecintaan kepada beliau sebagai sebuah kewajiban atas orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Demikian juga, tidak pernah kita jumpai riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah mengatakan ungkapan tersebut kepada salah seorang dari mereka.

Adapun hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Anas bin Malik, beliau berkata:

أن رجلاً كان عند النبي صلى الله عليه وسلم فمر به رجل فقال: يا رسول الله إني لأحب هذا، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: أعلمته؟ قال: لا، قال: أعلمه، قال: فلحقه فقال: إني أحبك في الله، فقال: أحبك الذي أحببتني له

Bahwasanya ada seorang sahabat yang sedang berada di sisi Nabi shāllallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, kemudian seseorang lewat di hadapan mereka. Lantas sahabat ini mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar mencintai orang ini”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya: “Apakah engkau telah memberitahukan rasa cintamu kepadanya?” Ia berkata: “Belum.” Beliau berkata: “Jika demikian, pergilah dan beritahukan kepadanya”. Maka ia langsung menemui orang itu dan mengatakan “Inni uhibbuka fillah” (sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah), lalu orang tersebut menjawab: “Ahabbakalladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku karena-Nya).

Hadist ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya. Hadist ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam. Dalam riwayat Ath-Thabrani terdapat tambahan: “kemudian sahabat ini kembali menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan jawaban orang tersebut kepada beliau. Mendengar cerita sahabat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “engkau akan bersama dengan orang yang kau cintai dan untukmu pahala atas apa yang kau harapkan dari rasa cintamu itu”. Hadist ini dinilai shahih oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mustadrak (189/4).

Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani)
Dari Mujahid berkata,

لقيني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأخذ بمنكبي من ورائي. قال: أما إني أحبّك. قال : أحبك الله الذي أحببتني له. فقال : لولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا أحب الرجل الرجل فليخبره أنه أحبه. ما أخبرتك. قال: ثم أخذ يعرض علي الخطبة. قال: أما إن عندنا جارية، أما إنها عوراء

“Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata,

أما إني أحبّك

“Sungguh saya mencintaimu.”
Dia lalu berkata,

أحبك الله الذي أحببتني له

“Semoga Allah yang mencintaimu yang telah membuatmu mencintaiku karena-Nya.”

Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia lalu menyodorkan sebuah lamaran kepadaku sambil berkata,
“Kami memiliki seorang budak perempuan dia buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod 422/543. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Inilah ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling mencintai. Ketika kita mencintai saudara kita karena Allah, maka ungkapkanlah cinta tersebut dengan mengatakan, “Inni uhibbuk” atau “Inni uhibbuk fillah”. Lalu ketika saudaranya mendengar, maka balaslah dengan mengucapkan “ahabbakallahu alladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu). Dan ini menunjukkan hendaknya cinta dan benci pada orang lain dibangun karena Allah, bukan karena maksud dunia semata.

Ibnu ‘Abbas berkata,

من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك. وقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا.

“Siapa yang mencintai dan benci karena Allah, berteman dan memusuhi karena Allah, sesungguhnya pertolongan Allah itu diperoleh dengan demikian itu. Seorang hamba tidak akan bisa merasakan kenikmatan iman walaupun banyak melakukan shalat dan puasa sampai dirinya berbuat demikian itu. Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena kepentingan dunia. Persahabat seperti itu tidaklah bermanfaat bagi mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir disebutkan dalam Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi)

Al Hasan Al Bashri berkata,

إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة

“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Semoga kita bisa saling mencintai karena Allah dan mendapatkan pertolongan-Nya.
Semoga Allah senantiasa menjaga agama kita dan menganugerahkan kepada kita petunjuk. Hanya kepada-Nya lah kita meminta. Aamiin.

Sumber:
http://rumaysho.com/akhlaq/aku-mencintaimu-karena-allah-6319
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/hukum-ucapan-aku-mencintaimu-karena-allah-kepada-lawan-jenis-yang-bukan-mahram.html

Selasa, 19 September 2017

Makna Qurrota a’yun (Penyejuk Jiwa)

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu  berkata: “Qurrota a’yun maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan ketha’atan, sehingga dengan ketha’atannya itu membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat.”
Keturunan yang tha’at pada Allah akan menyenangkan orang tua dengan bakti dan pelayanannya. Akan menyejukkan hati orang tua dan keluarga dengan membacakan dan mengajarkan mereka mentadabburi al-Quran dan as-Sunnah. Keturunan yang taat pada Allah juga lebih bisa diharapkan menjaga keutuhan keluarga di atas agama yang mulia ini dan lebih bisa diharapkan doanya dikabulkan Allah untuk kebaikan orang tua dan keluarga.

Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman, demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya tha’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”


Imam Qurthubi menjelaskan makna “Qurrata A’yunin” adalah Sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya. Sehingga ketika ia mempunyai seorang isteri niscaya berkumpul di dalam dirinya angan-angan kepada istrinya berupa: kecantikan, harga diri, pandangan, dan kewaspadaan. Jika ia memilki keturunan yang senantiasa menjaga ketha’atan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan, serta tidak berpaling kepada suami yang lain, dan tidak pula kepada anak yang lain. Sehingga matanya menjadi tenang dan tidak berpaling kepada yang lainnya, maka itulah kebahagiaan mata dan ketenangan jiwa.
Perintah Allah menciptakan generasi penyejuk jiwa :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim : 6).
Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Maknanya yaitu ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.” 
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.”  
By : Ali Farkhan Tsani

Ishbir Ya Ukhti

QS. Al Imron:200.
Hai orang-orang yg beriman ,bersabarlah kmu dan kuatkanlah kesabaranmu and tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) and bertakwalah kepada Allah supaya kmu beruntung.

"ishbir..ya ukhti...", ya hanya tiga kata memang.
Tiga kata sederhana.
yang sanggup meruntuhkan sempitnya hati dan sesaknya jiwa.
Tiga kata sederhana.
yg dengan mudahnya melelehkan gumpalan-gumpalan gundah di hati and mataku
menusuk tajam naluri humanisku
ya ternyata.
bagaimana pun juga aku hanyalah manusia.

"ishbir..ya ukhti..."
Tiga kata sederhana.
yg bahkan dengannya ingin rasanya ku beli seisi dunia
sungguh, dunia seakan menjadi begitu murah.
dibandingkan harga dari tiga kata itu.
Ada ragu, ada harap, ada cemas, ada takut...ada cinta..

"ishbir..ya ukhti..."
Ya, ini bukan kali pertamanya aku menerimanya.
ada beberapa kali "isbhir" sebelumnya.
tapi selalu saja setiap kali kata "isbhir" itu keluar.
lidahku kelu, seakan bungkam ribuan alasan, argumen manapun..patah seketika!
detik itu juga.
................
tapi, ukhti...lidahku kelu bukan sembarang kelu..

Ya, aku harus sanggup, mampu, yakin!
Yakin bisa memeluknya erat-erat dalam perjalanan taqwa ini
Yakin bisa tetap bertahan walau tertatih...
Yakin! karena tiada lagi pelukan yang lebih menentramkan selain pelukanNya
Kemana lagi aku harus mencari ketentramana, ketenangan, jika bukan kepadaNya?
Kepada siapa lagi aku harus menagih cinta?
Kepada siapa lagi, jika bukan kepadaNya..

Rabb, kuatkanlah hamba...
Jika suatu keadaan itu memang terbaik untuk agamaku, da'wahku, duniaku, akhiratku, diri dan keluargaku maka dekatkanlah...
JIka suatu keadaan itu buruk, maka jauhkanlah...
dan takdirkanlah kebaikan dimanapun aku berada..
dan jadikanlah aku Ridho untuk menerimanya...

ISHBIR YAA QALBI

Sabar adalah tangga dimana seseorang akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan didepannya dengan baik. Sekaligus menjadikan dirinya menjadi lebih maju dari waktu kewaktu.

Sabar membuat orang-orang yang melakukannya mendapat pahala yang terus menerus bahkan tanpa batas. Karena itulah, jika rintangan, halangan, maupun cobaan yang menimpa kita. Bersyukurlah karena itulah cara terbaik dalam melatih kesabaran.

Kesabaran. Pada dasarnya, setiap orang mampu mengatasi semua kesulitan itu dengan baik. Selama ia mempunyai kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut dan terus mencari jalan keluar dari setiap masalah. Tanpa adanya kesabaran, sulit untuk menemukan jalan keluar.

Kesabaran itulah kunci agar kita menemukan jalan keluar. Karenanya kita tidak perlu takut dengan berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Karena semua masalah didunia ini datang bersama jalan keluarnya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.Semua ada jalan keluarnya jika kita mau bersabar.

Berprasangka baik selalu pada Allah. Percaya Janji -Nya selalu pasti. Hanya butuh sedikit sabar untuk menjadikan segalanya terasa indah.

Ishbir Yaa Qalbi..
O heart be patient. Prayer and patience heals all pain. Nothing lasts forever. Your pain will also come to end Insyaa Allah.

"Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu selalu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan." (QS. As-Syarh [94] : 5-6)

"Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. Al-Baqarah.[2] :214)

Part I and Part II

 Tentang Pacaran (I) oleh Ustadz Felix Siauw
1.      "emang pacaran dalam Islam nggak boleh ya?" | iya, Rasul melarang segala jenis khalwat (berdua-duaan) yg bukan mahram, termasuk pacaran

2. "walaupun beda negara? LDR gitu" | mau beda negara, mau beda alam, mau beda dunia, mau LDR mau tetangga, tetep aja haram

3. "kan pacarannya nggak ngapa-ngapain?" | nggak ngapa-ngapain aja dapet dosa, rugi kan? mendingan nggak usahlah

4. "tapi kan kita punya perasaan" | so? punya perasaan nggak buat kamu boleh melanggar hukum Allah yang kasi kamu perasaan


5. "kalo pacarannya bikin positif?" | positif hamil maksudnya?

6. "hehe.. jangan suudzann, maksudnya bersamanya bikin rajin shalat geto" | shalatmu untuk Allah atau untuk pacar? pernah denger ikhlas?

7. "nggak, maksudnya kita, dia kan ber-amar ma'ruf.." | halah, dusta, mana ada kema'rufan dalam membangkang aturan Allah :)

8. "kalo orangtua udah restui?" | mau orangtua restui, mau orangutan, tetep aja pacaran maksiat

9. "katanya ridha Allah bersama ridha ortu?" | wkwk.. ngawur, dalam taat pada Allah iya, dalam maksiat? masak ortu lebih tau dari Allah?

10. "jadi nggak boleh nih? kl dikit aja gimana?" | eee.. nawar, emang ini toko besi kulakan?

11. "terus solusinya gimana? kan Allah ciptakan rasa cinta?" | nikah, itu solusi dan baru namanya serius

12. "yaa.. saya kan masih belum cukup umur" | sudah tau belum niat nikah, kenapa malah mulai pacaran?

13. "pacaran kan enak, nikmat" | iya, nikmat bagi lelaki, bagimu penyesalan penuh airmata nanti

14. "pacar saya udah bilang dia serius sih, 6 tahun lagi baru dia lamar saya" | itu mah nggak serius, sama aja teken kontrak untuk sengsara

15. "pacar sy bilang nunggu sampe punya rumah baru lamar" | itu agen properti atau calon suami? nggak serius banget

16. "pacar sy bilang nikahnya nanti kalo udah cukup duit" | alasan klise, itulah yg cowok katakan untuk tunjukkin betapa nggak komit dia

17. "pacar sy bilang mau nikah tapi tunggu saudaranya nikah dulu" | ya tunda aja hubungannya sampe saudaranya nikah

18. "pacar sy bilang dia siap, tapi nunggu lulus" | alasan yang paling menunjukkan ketidakseriusan, nggak siap tu namanya

19. "pacar sy siap ketemu ortu sy sekarang juga, tapi sy yg belum siap" | cape deeh (=_=);

20. "ya udah, kakak-adik aja ya?" | wkwk.. maksa banget sih mau maksiat? giliran suruh shalat aja banyak alas an

21. "terus yang serius itu yang gimana?" | yang berani datangi wali-mu, dan dapet restu wali-mu dan menikahimu segera

22. "iya, sy udah putusin pacar, dia mau bunuh diri katanya" | tuh, tau kan mental lelaki pacaran, suruh nguras laut aja lelaki begitu

23. hal terserius yang bisa dilakukan yg belum siap adalah memantaskan diri | bukan justru mengobral diri

24. pahami agama, kaji Islam, perjuangkan Islam sebagai persiapan, itu baru serius | agar pantas dirimu jadi pasangan dan ortu yg baik

25. cinta ada masanya, pantaskan diri untuknya | bukan dengan pacaran, baku syahwat pake badan

26. kl siap walau nikahnya harus besok, barulah ta'aruf | karena ta'aruf bukan mainan bagi yg belum siap

27. jadi serius bagi yg sudah siap adl dengan nikah | sementara serius bagi yg belum siap adl mendekat dan taat pada Allah | kelir?!

Tentang Pacaran (2)  Oleh Ustadz Felix Siauw

1. pacaran itu menjalin silaturahim | "silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran" #UdahPutusinAja

2. pacaran itu bikin semangat belajar | "semangat belajar maksiat?" #UdahPutusinAja

3. pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | "ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?" #UdahPutusinAja

4. pacaran itu sekedar penjajakan kok | "serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?" #UdahPutusinAja

5. kasian kalo diputusin | "justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?" #UdahPutusinAja

6. kasian dia diputusin, aku sayang dia | "putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?" #UdahPutusinAja

7. putus itu memutuskan silaturahim | "silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?" #UdahPutusinAja

8. nggak tega putusin.. | "berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?" #UdahPutusinAja

9. aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | "nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus" #UdahPutusinAja

10. aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | "ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti" #UdahPutusinAja

11. nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | "pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya" #UdahPutusinAja

12. berat mutusin | "semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu Description: smile " #UdahPutusinAja

13. nanti aku dibilang nggak laku gimana? | "bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja" #UdahPutusinAja

14. kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | "belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!" #UdahPutusinAja

15. dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | "hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah" #UdahPutusinAja

16. pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam, #UdahPutusinAja

17. pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran, #UdahPutusinAja

18. pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah, #UdahPutusinAja

19. pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih) #UdahPutusinAja

20. pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe.. #UdahPutusinAja

21. lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda? #UdahPutusinAja

22. wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak "aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini Description: smile" #UdahPutusinAja

Ishbir Ya Nafsii

Ishbir ya Nafsii....
Jika apa yang kau inginkan, kau idamkan, kau cita-cita belum terwujud juga

Ishbir ya Nafsii....
Karena setiap hari pasti kau akan menghadapi hal-hal yang bisa jadi menguji kesabaranmu
Bisa jadi kau akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak kau sukai

Ishbir ya Nafsii….
Rencana-Nya pasti lebih indah dari rencanamu

Ishbir ya Nafsii….
“Janganlah engkau bersikap lemah dan bersedih hati. Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”
Ishbir ya Nafsii..
Jika tidak ada orang yang bisa menghilangkan kegalauanmu, jika kau merasa tidak ada yang mampu memahami perasaanmu, coba datangilah Dia Yang Maha Memberi Petunjuk, ceritakan semuanya kepada Dia Yang Maha Mendengar, adukanlah semua kepada Dia Yang Maha Cinta

Ishbir ya Nafsii…
Karena Alloh berjanji akan selalu bersama orang yang sabar

Ishbir ya Nafsii…
Seperti kesabaran para nabi yang mulia…..

Ishbir ya Nafsii..
Nabi Muhammad Sholallohu’alaihiwassalam pernah di ludahi, di lempar batu, dianggap orang gila dan masih banyak perlakuan kasar lainnya, tapi beliau selalu bersabar dan tak pernah menyerah dalam berdakwah.

Ishbir ya Nafsii…
Seperti kesabaran nabi Yusuf ketika di dzolimi saudaranya…
Juga ketika ada sesosok perempuan cantik dan berkedudukan yang menggodanya dan mengajaknya berzina…
Tapi beliau sabar dan tetap teguh pendirian. Seberapapun keinginannya pada Zulaikha.
Seperti Nabi Ayub yang di uji dengan penyakit kulit di seluruh tubuhnya

Ishbir ya Nafsi
“Innama’al’usriyusroo..fainnama’al’usriyusro”
Dan janji Alloh itu pasti.
Kita hanya harus yakin. Yakinlah.

Wallohu'alam

Senin, 18 September 2017

HADIST NABI, BUKHARI MUSLIM : TENTANG PUASA

 KITAB PUASA ; BAB : KELEBIHAN LAILATUL KADAR DAN ANJURAN SUPAYA MENCARINYA PADA WAKTUNYA

723. Ibn Umar r.a. berkata: Ada beberapa sahabat Nabi saw. telah diperlihatkan Lailatul Kadar dalam mimpi di malam dua puluh tujuh, maka Nabi saw. bersabda: Aku perhatikan impianmu bertepatan dalam malam dua puluh tujuh, maka siapa berusaha untuk mendapatkannya hendaknya berusaha mencarinya pada malam dua puluh tujuh Ramadhan. (Bukhari, Muslim).

724. Abu Said r.a. berkata: Kami i’tikaf bersama Nabi saw. pada malam-malam pertengahan (11-20) Ramadhan, lalu keluar pada pagi hari 20 (dua puluh) Ramadhan dan berkhotbah: Aku semalam diperlihatkan Lailatul Kadar, kemudian dilupakan, karena itu kalian cari pada malam-malam yang ganjil 21, 23, 25, 27, 29. Pada malam-malam yang terakhir, dan aku diperlihatkan seakan-akan aku sujud di atas air dan tanah, maka siapa yang i’tikaf bersama Nabi saw. hendaknya pulang. Maka kami pulang dan tiada melihat sedikit awanpun di langit, tiba-tiba datang awan dan turun hujan sehingga mengalir dari atas masjid yang terbuat dari daun kurma, kemudian terdengar iqamat untuk shalat, maka aku melihat Nabi saw. sujud di atas air dan tanah, sehingga aku melihat bekas tanah yang menempel di dahi Nabi saw. (Bukhari, Muslim).

725. Abu Said Al-Khudri r.a.  berkata: Biasa Nabi saw. i’tikaf pada malam-malam pertengahan (11-20) Ramadhan, maka apabila telah sore hari ke-20 Ramadhan beliau pulang ke rumah demikian pula para sahabat yang mengikutinya. Kemudian pada saat yang biasanya pulang, tiba-tiba berkhotbah dan bersabda: Aku biasa i’tikaf pada malam-malam ini, kemudian terasa padaku untuk i’tikaf pada malam-malam akhir (21-30) Ramadhan, maka siapa yang telah i’tikaf bersamaku tetaplah dalam i’tikafnya, sebab aku telah diperlihatkan malam Lailatul Kadar kemudian dilupakannya, karena itu kalian cari pada malam-malam ganjil (21-23-25-27-29), aku ditunjukkan seakan-akan aku sujud di atas tanah berair, tiba-tiba malam itu berawan dan hujan, sehingga bocor di masjid terutama mushola Nabi saw. pada malam dua puluh satu, kemudian aku melihat dengan mata kepalaku ketika Nabi saw. keluar dari shalat Subuh, muka Nabi saw. berlumuran tanah berair (lumpu). (Bukhari, Muslim).

726. ‘Aisyah r.a. berkata: Biasa Rasulullah saw. i’tikaf pada malam-malam sepuluh terakhir (21-30) Ramadhan dan bersabda: Carilah malam Lailatul Kadar pada malam-malam terakhir (21-30) Ramadhan. (Bukhari, Muslim).
KITAB PUASA ; BAB : PUASA PADA AKHIR SYA’BAN

722. Imran bin Hushain r.a. ditanya oleh Nabi saw. atau Nabi saw. tanya kepada orang sedang Imran mendengar: Hai Abu Fulan, apakah engkau pada akhir-akhir bulan ini puasa? Imran berkata: Aku kira pertanyaan itu di bulan Ramadhan. Jawab orang itu: Tidak ya Rasulullah. Maka sabda Nabi saw.: Jika engkau telah selesai dari puasa ini maka puasalah dua hari. (Bukhari, Muslim).

KITAB PUASA ; BAB: LARANGAN PUASA BAGI ORANG YANG MADHARAT ATAU DITERUSKAN PUASA HARI RAYA DAN HARI TASYRIQ

714. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. diberi tahu bahwa aku bersumpah: Demi Allah aku akan puasa tiap siang dan akan bangun tiap malam selama hidup. Maka ketika aku ditanya, aku jawab: Aku telah terlanjur sumpah sedemikian, maka sabda Nabi saw.: Engkau tidak dapat berbuat itu, puasalah dan berbukalah (tidak puasa), bangun malam dan tidurlah, puasalah tiap bulan tiga hari maka sesungguhnya tiap kebaikan itu berlipat sepuluh kali, dan itu menyamai puasa sepanjang masa. Aku jawab: Aku kuat lebih dari itu. Sabda Nabi saw.: Puasalah sehari dan tidak puasa sehari, itu puasanya Nabi Dawud a.s. dan itu puasa yang paling utama. Jawabku: Aku lebih kuat dari itu. Sabda Nabi saw.: Tidak ada lebih utama dari itu. (Bukhari, Muslim).

715. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Ya Abdullah aku dapat berita bahwa engkau puasa tiap siang dan bangun tiap malam (semalam suntuk)? Jawabku: Benar Ya Rasulullah. Nabi saw. bersabda: Jangan berbuat begitu, puasalah dan berbukalah (tidak puasa), bangunlah dan tidur, sebab jasadmu ada hak, dan matamu ada hak, dan istrimu ada hak atasmu, dan tamumu ada hak atasmu, dan cukup bagimu puasa tiap bulan tiga hari, maka tiap kebaikan berlipat ganda sepuluh kali, maka itu sama dengan puasa sepanjang masa. Abdullah berkata: Aku telah memperberat maka diberatkan atasku. Aku berkata: Ya Rasulullah, aku merasa kuat. Maka sabda Nabi saw.: Puasalah seperti puasanya Nabi Daud a.s. dan jangan lebih dari itu. Aku tanya: Bagaimana puasa Nabi Dawud a.s.? Jawab Nabi saw.: Setengah abad. Kemudian ketika Abdullah mencapai usia tua ia berkata: Andaikan aku dahulu menerima keringanan yang diberikan oleh Nabi saw. pasti lebih baik (lebih enak). (Bukhari, Muslim).

716. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan bacaan) Al-Qur’an dalam masa sebulan. Jawabku: Aku merasa kuat, sehingga Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan) dalam tujuh hari jangan kurang dari itu. (Bukhari, Muslim).

717. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku: Ya Abdullah, engkau jangan meniru si Fulan, ia dahulu suka bangun malam tetapi kemudian meninggalkan bangun malam. (Bukhari, Muslim).

718. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Rasulullah saw. mendapat berita bahwa aku puasa terus menerus dan bangun shalat sepanjang malam, entah beliau memanggil aku atau aku bertemu padanya, maka beliau bersabda: Aku diberitahu bahwa engkau puasa terus menerus dan shalat malam. Puasalah dan berbukalah (tidak puasa), bangunlah dan tidur, sebab untuk matamu ada hak bagian daripadamu, juga dirimu dan istrimu ada bagian daripadamu. Jawabku: Aku merasa kuat untuk itu. Maka sabda Nabi saw.: Puasalah seperti puasanya Nabi Dawud a.s. Aku tanya: Bagaiman? Jawab Mabi saw.: Puasa sehari dan tidak puasa sehari, dan tidak pernah lari jika berhadapan dengan musuh. Abdullah berkata: Siapakah yang dapat berbuat itu ya Rasulullah. Atha’ berkata: Aku tidak ingat bagaimana lalu menyebut mengenai selamanya (terus menerus tidak pakai berhenti). Tidak puasa orang yang puasa selamanya (terus menerus). (Bukhari, Muslim).

719. Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku: Engkau puasa sepanjang masa, dan bangun malam semalam suntuk? Jawabku: Ya. Bersabda Nabi saw.: Jika engkau berbuat begitu akan rusak mata dan lelah badan. Tidak puasa orang yang puasa sepanjang masa terus menerus, puasa tiap bulan tiga hari itu berarti puasa sepanjang masa. Jawabku: Aku merasa kuat untuk puasa lebih dari itu. Nabi saw. bersabda: Puasalah seperti puasanya Nabi Dawud a.s. yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari, dan tidak pernah lari jika berhadapan dengan musuh (yakni dalam jihad). (Bukhari, Muslim).

KITAB PUASA ; BAB : PUASA NABI SAW. SELAIN RAMADHAN

711. ‘Aisyah r.a. berkata: Biasa Rasulullah saw. puasa sehingga dapat dikatakan tidak pernah tidak puasa, dan ada kalanya tidak puasa sehingga dapat dikatakan tidak pernah puasa sunah. Dan tidak pernah Nabi saw. puasa sebulan penuh selain Ramadhan, juga tidak pernah aku melihat puasanya yang terbanyak kecuali bi bulan Sya’ban. (Bukhari, Muslim).

712. ‘Aisyah r.a. berkata: Tidak biasa Nabi saw. puasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, bahkan ada kalanya puasa sebulan Sya’ban penuh. Dan Nabi saw. bersabda: Kerjakan amal perbuatan sekuat tenagamu, sehingga Allah tidak jemu menerima dan memberi sehingga kamu jemu beramal, dan shalat yang disukai oleh Nabi saw. ialah yang dikerjakan terus menerus oleh orangnya meskipun sedikit, dan adalah Nabi saw. jika shalat sunah maka ditetapkan selanjutnya. (Bukhari, Muslim).

713. Ibn Abbas r.a. berkata: Nabi saw. tidak pernah puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan selalu puasa sehingga orang berkata: Tidak pernah tidak puasa, dan ada kalanya tidak puasa sehingga orang dapat berkata: Tidak pernah berpuasa. (Bukhari, Muslim).

KITAB PUASA ; BAB : JIKA MAKAN, MINUM ATAU BERJIMAK KARENA LUPA TIDAK BATAL PUASANYA

710. Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Jika lupa lalu makan atau minum, maka hendaknya meneruskan puasanya, sebab ia diberi mkan dan minum oleh Allah Ta’ala. (Bukhari, Muslim).

KITAB PUASA ; BAB : FADHILAH PUASA KARENA ALLAH BAGI ORANG YANG KUAT DAN TIDAK MADHARAT

709. Abu Said Al-Khudri r.a. berkata: Aku telah mendengar Nabi saw. bersabda: Siapa yang puasa sehari karena Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun. (Bukhari, Muslim).
KITAB PUASA ; BAB : FADHILAH PUASA

707. Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Semua amal perbuatan anak Adam untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, dan puasa itu sebagai perisai, maka pada hari puasa seorang tidak boleh berkata keji juga tidak boleh ribut, marah-marah, maka jika ada orang memakinya atau mengajak berkelahi maka hendaknya menjawab: Aku sedang puasa, demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa lebih sedap (harum) di sisi Allah dari bau misik (kasturi). Bagi orang yang puasa dua kegembiraan, jika berbuka bergembira, dan jika bertemu dengan Tuhan dia akan bergembira karena puasanya. (Bukhari, Muslim).

708. Sahl r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan, yang masuk dari pintu itu pada hari kiamat hanya orang yang berpuasa, tidak boleh masuk dari pintu itu selain mereka, lalu dipanggil: Dimanakah orang-orang yang berpuasa, maka bangunlah mereka dan masuk ke pintu itu dan tidak boleh masuk dari situ selain mereka, jika sudah semuanya maka ditutup dan tidak boleh orang lain masuk. (Bukhari, Muslim).
KITAB PUASA ; BAB : ORANG PUASA HARUS MENJAGA LIDAH

706. Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Puasa itu bagaikan perisai (dinding), maka jangan berkata keji (rayuan) atau berlaku bodoh (menjerit-jerit) dan sebagainya. Dan jika ada orang yang mengajak berkelahi atau memaki hendaknya berkata: Aku puasa, aku puasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau kasturi (misik). Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena-Ku, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi pahalanya, dan biasa tiap kebaikan sepuluh kali lipat gandanya. (Bukhari, Muslim).

KITAB PUASA ; BAB : MENGQADHA PUASANYA ORANG YANG TELAH MATI

23 Agustus, 2009 — rakean bagus minda raksadipa

704. ‘Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang mati sedang mempunyai hutang puasa, maka dapat dipuasakan (dibayar puasanya) oleh walinya. (Bukhari, Muslim).

705. Ibn Abbas r.a. berkata: Seorang datang bertanya kepada Nabi saw. Ya Rasulullah, ibuku mati sedang ia berhutang puasa sebulan, apakah boleh aku mengqadha untuknya? Jawab Nabi saw.: Ya. Hutang kepada Allah lebih patut dibayar (diqadha). (Bukhari, Muslim).
KITAB PUASA ; BAB : QADHA PUASA RAMADHAN DI BULAN SYA’BAN

22 Agustus, 2009 — rakean bagus minda raksadipa

703. ‘Aisyah r.a. berkata: Biasa jika aku berhutang puasa Ramadhan maka tidak dapat meng-qadha-nya kecuali pada bulan Sya’ban. (Bukhari, Muslim).

Hikmah "Bersabar" dari Rasulullah S.A.W dalam Kehidupan Seharian

Pesanan,Tips dan Fadhilat Untuk "Bersabar" dari Rasulullah S.A.W dalam Kehidupan Seharian:


Sifat sabar adalah suatu sifat yang "Mesti" ada pada setiap insan yang bergelar "Mukmin" bagi meneruskan Kehidupan dan Menggamit kejayaan di dalam kehidupan di dunia dan akhirat..Bayangkan jikalau manusia tidak mempunyai(hilang) sifat sabar, tentulah kucar-kacir dan porak perandalah dunia kerana manusia telah ditelan oleh sifat amarah dan didorong oleh hawa nafsu di dalam setiap perbuatannya. Disebabkan itu, Allah telah menurunkan Rasulullah(kekasih Allah) untuk menyampaikan risalah yang terakhir dan sebagai contoh ikutan terbaik untuk manusia dan umatnya yang paling ramai sekali dari nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain yakni diturunkan kepada seluruh umatnya sehingga hari kiamat...



1:Hadis adalah satu Kekuatan bagi manusia yang dapat bersabar:


"Orang yang gagah perkasa tidak diukur dengan kemenangan dalam pertarungan, tetapi kekuatan yang sebenar ialah orang yang dapat mengawal dirinya ketika marah."


[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]



Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadis; Daripada Abu Hurairah ra berkata, bahawa Rasulullah bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergusti, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika ia sedang marah".


 [Hadis Riwayat Bukhari]




2:Hadis hendaklah Diam(Bersabar) Apabila Dicaci Dan Dimaki:



Sa’eed bin Musayyeb berkata: Pada suatu ketika, Rasulullah SAW duduk-duduk bersama dengan para Sahabat.Muncul seorang lelaki lalu dia mencela dan memaki hamun Abu Bakar r.a  hingga menyebabkan Abu Bakar ’sakit’ mendengarnya. Tetapi Abu Bakar terus mendiamkan diri. Lelaki itu meneruskan lagi celaan dengan bahasa yang lebih kasar terhadap Abu Bakar, namun beliau masih terus mendiamkan diri. Masuk kali ketiga, apabila lelaki itu terus menyakiti Abu Bakar dengan lisannya, Abu Bakar bingkas mahu menjawab balik.


Lalu Baginda Rasulullah SAW bangun. Abu Bakar r.a bertanya , " Apakah engkau marah denganku wahai Rasulullah? " Baginda menjawab , " Tidak , cuma semasa kamu mendiamkan diri, Malaikat turun dari Langit bertindak(membalas) terhadap kata-kata (cacian) lelaki itu. Tetapi sebaik sahaja kamu mula membalas cacian lelaki itu, Malaikat melarikan diri lalu Syaitan datang dan duduk. Aku tidak boleh duduk di tempat yang Syaitan duduk di situ.”


[ Hadith riwayat Abu Dawud]




3:Hadis sabar merupakan cahaya yang menyinari kegelapan:


Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…"


[Hadis Riwayat Muslim]



4:Hadis perlulah "istiqamah" dalam mendidik sifat sabar di dalam diri:


Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimum.(bersungguh-sungguh).Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "…barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…"


[Hadis Riwayat Bukhari]




5:Hadis Beruntunglah orang yang bersabar kerana diberikan anugerah Allah yang tertinggi:


Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, "…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran."


[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]



 6:Sabar bukti tanda-tanda orang itu beriman:


Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengatahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah baik baginya.


(Hadis Riwayat Muslim]



7:Sabar merupakan Salah Satu Jalan ke Syurga Allah S.W.T:


Daripada Anas bin Malik ra berkata, bahawa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah berfirman: "Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya (buta mata), kemudian dia bersabar, maka aku gantikan syurga baginya".

[Hadis Riwayat. Bukhari]



8:Hadis Sabar merupakan sifat para Nabi dan Rasul:


Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Daripada Abdullah bin Mas’ud berkata: "Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah daripada wajahnya seraya berkata, "Ya Allah ampunilah dosa kaumku, kerana sesungguhnya mereka tidak mengetahui".


[Hadis Riwayat Bukhari]



9:Hadis Sabar dengan Ujian dan Cubaan dapat menghapuskan (penebus) Dosa:


Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadisnya; Daripada Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda; "Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan

dosa-dosanya dengan hal tersebut".


[Hadis Riwayat Bukhari & Muslim]



“Tiada seorang Muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosanya.”


[Hadis riwayat Bukhari dan Muslim]



10:Hadis Sabar terhadap segala Qadha dan Qadar Allah Menjanjikan Kebahagian yang paling tinggi untuk orang seorang mukmin di dalam kehidupannya:


Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkara adalah baik baginya. Dan tidak lah didapati seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin. Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya maka  dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.”


[Hadith Riwayat Muslim]




11:"Firman Allah berkenaan perintah Bersabar daripada Allah SWT di dalam Al-Quran" :


"Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar"

[Al-Baqarah 2:153]


"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)".

[Ali'Imraan 3:200]


"Dan turutlah apa yang diwahyukan kepadamu serta bersabarlah (dalam perjuangan mengembangkan Islam) sehingga Allah menghukum (di antaramu dengan golongan yang ingkar, dan memberi kepadamu kemenangan yang telah dijanjikan), kerana Dia lah sebaik-baik Hakim".

[Yunus 10:109]


"Dan sabarlah (wahai Muhammad, engkau dan umatmu, dalam mengerjakan suruhan Allah), kerana sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan".

[Hud 11:115]


"Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya

yang mereka lakukan".

[Al-Nahl 16:127]

Rabu, 13 September 2017

Kumpulan Hadist Nabi Tentang Cinta

Rasulullah bersabda : “man ahabba syai’an katsura dzikruhu” Saat orang sedang jatuh cinta lebih cenderung selalu mengingat dan menyebut nama orang yang dicintainya. “Man ahabba syai’an fa huwa `abduhu” Orang tersebut juga bisa diperbudak oleh rasa cintanya. Nabi juga mengatakan bahwa ada 3 ciri cinta sejati:


1. lebih suka berbicara / berbincang dengan yang dicintainya

2. lebih suka berkumpul / dekat dengan yang dicintainya

3. lebih suka mengikuti kemauan / memberi yang diinginkan oleh yang dicintainya


Begitu pula bila kita mengaku mencintai Allah SWT, apakah kita sudah memiliki ciri seperti yang disebut di atas untuk Allah?? Renungkanlah....


“Barangsiapa yang ingin merasakan manisnya keimanan, maka hendaklah ia mencintai seseorang, yang tidak ia cintai kecuali karena Allah”. (HR. Ahmad)


Rasulullah juga bersabda, “Tidaklah seorang hamba Allah mencintai hamba Allah lainnya karena Allah semata, kecuali dia akan dimuliakan oleh Allah SWT”. (HR. Ahmad)


Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti akan terlihat seperti bintang yang muncul dari timur dan barat yang bersinar. Lalu ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu?”. Rasulullah menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah SWT”. (HR. Ahmad)


"Barangsiapa yang mencintai dan membenci karena Allah SWT, atau memberi dan tidak mau memberi karena Allah SWT, maka sesungguhnya orang tersebut telah menyempurnakan imannya." (HR. Abu Daud)


Perumpamaan orang-orang beriman yang memiliki rasa saling mencintai, saling berkasih sayang dan saling mengasihi adalah ibarat satu tubuh yang ketika salah satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh anggota tubuh akan mengaduh dengan terus terjaga tidak bisa tidur dan merasa panas. (HR. Muslim)


"Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berfirman : Dimanakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaunginya dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan, melainkan naungan-Ku." (HR. Muslim)


Cintailah kekasihmu sewajarnya saja, karena bisa saja kekasihmu itu suatu hari nanti menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu sewajarnya saja, karena bisa saja suatu hari musuhmu itu menjadi kekasihmu. (HR. Turmudzi)


“Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya“. (HR. Hakim)


Sabda Rasulullah: “Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya dan manusia semuanya”. (HR. Bukhori)


Yang Mulia Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Jika seseorang mencintai saudaranya karena Allah SWT, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya”. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)


“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar rasa cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Dan ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.” (HR. Al-Bazaar dan Sanad Hasan)


“Allah SWT berfirman, ” Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang saling cinta-mencintai karena Aku, saling kunjung-mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku.” (Hadits Qudsi)”


“Cintailah sesuatu itu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu benci, dan bencilah sesuatu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cintai (H.R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu Majah)


“Tiga perkara, barangsiapa memilikinya, maka ia dapat merasakan indahnya iman, yaitu

- cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya,

- cinta kepada seseorang karena Allah

- membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakkan ke dalam api neraka”.

(HR. Bukhari Muslim)


Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si pulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si pulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si pulan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si pulan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi. (Riwayat Abu Hurairah ra)


Sabda Rasulullah "Man ahya sunnatii faqod ahabbanii, waman ahabbani kaana ma’ii fil jannah" – Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, sungguh dia cinta kepadaku. Dan barangsiapa yang mencintai aku maka dia akan bersamaku di surga.”


Wasiat Rasulullah SAW : Jaga Shalat ,jaga kata-kata ,jauhi iri HATI

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah lalu mengatakan, “Berilah aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah Aku dengan ringkas!”

Lalu Rasulullah bersabda,

🌹 “(1) jika kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah sebagaimana shalat orang yang akan pergi selamanya;

🌹 (2) jangan kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya;

🌹 (3) bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.”

(HR. Ahmad, no. 23498 dan Ibnu Majah, no. 4171)

Tiga pesan yg pendek ,sudah mampukah kita Jalankan?

🌹Shalat

Kalau kita tahu shalat kita adalah shalat yg terakhir and kita sadar bahwa kenikmatan hidup yg abadi benar-benar tergantung kualitas shalat kita ,maka tentu kita akan berupaya sekeras mungkin and minta waktu pada Allah untuk sebanyak-banyaknya menambah do'a di dalamnya agar kita bisa selamat di akhirat nanti.

Shalat juga adalah pembersih ,penyegar ,penjaga agar hidup kita terus seimbang ada dalam jalanNya .Shalat yg benar-benar berkualitas juga akan membuat kita sehat lahir batin and optimal dalam bekerja.

Jadi ,apakah yg dapat kita lakukan dengan lebih baik mulai hari ini untuk menjaga kualitas shalat ,seperti kita melakukan shalat terakhir?

🌹Menjaga kata

Kata-kata yg terucap and kemudian disesalkan pada umumnya adalah kata-kata yg muncul dari hati yg tidak enak, and kata-kata yg tidak disaring.

Jadi ,cobalah dua hal ini:

1. Selalu menjaga rasa .jaga hati agar selalu penuh rasa syukur and bahagia .cukup tidur ,shalat berkualitas ,turut menjaga hati yg baik.

2. Saringlah kata-kata dengan tiga saringan:

    Apakah hal itu benar ,baik atau bermanfaat???

Kalau ya, sampaikan kata-kata itu .kalau tidak ,lebih baik tutup mulut.

Sahabatku ,apakah hal yang dapat kita lakukan mulai hari ini untuk menjaga kata-kata kita agar tak ada sesal???

🌹Bersyukur, jauhi iri hati

Syukurilah semua yg diberikanNya. Allah Maha Adil .jadi apa yg tak menjadi milik kita tak perlu disesali. Allah pasti akan memberikan yg kita butuhkan pada saatnya.

Iri membebani jiwa dengan emosi negatif yg membawa penyakit ,bahkan kanker pun bisa datang dengan rasa iri yg terpelihara and berakumulasi bertahun-tahun .sungguh rugi ,bukan??? untuk apa kita iri and akhirnya mendapat berbagai gangguan penyakit akibatnya???

Kata-kata kita pun akan sulit terjaga baik kalau ada hati yg penuh rasa iri .reputasi tak akan terjaga baik .jadi untuk apa iri???

Nah ,apakah hal yg dapat kita lakukan mulai hari ini untuk menjaga hati dari rasa iri???

Semoga Allah jaga kita semua agar selalu dapat jalankanand tiga wasiat Rasulullah saw di atas .Aamiin

KOSA KATA ARAB

Ahlan           :  Sapaan ketika bertemu
Ahmar           :  Merah
Aladifi         :  Seadanya
Ahwal           :  Orang Jawa
Akhirotu        :  Ujung-ujungnya
Akhsan          :  Mendingan
Alafu           :  Maaf
Ainu            :  Mata
Aswad           :  Hitam
Alf             :  Seribu
Ajib            :  Keren 
Antum           :  Kamu
Ana             :  Saya
Bakher          :  Apa kabar
Baudeh          :  China
Bakhil          :  Pelit
Baqor           :  Sapi
Beit            :  Rumah
Bahlol          :  Goblok
Fadhol          :  Silahkan
Fudhul          :  Kepo  
Jannah          :  Surga
Gum             :  Ayo
Marid           :  Sakit
Rahat, Raksye   :  Asik
Galil Adab      :  Kurang Ajar
Rejal           :  Laki
Jama'ah         :  Orang Arab
Kharem          :  Perempuan
Khally          :  Cantik
Gas'ah          :  Tampan
Sawa'           :  Beneran
Harat           :  Bohong
Ente            :  Kau 
Harbatah        :  Kacau
Bahala'         :  Dulu
Gholi           :  Mahal
Gahwa           :  Kopi
Majlas          :  Kumpul-kumpul 
Syarik          :  Nyuri
Hawian          :  Pacaran
Royyid          :  Santai
Hawwas          :  Marah
Hammam          :  Toilet
Mera'bal        :  Jelek
Ta'ab           :  Capek
Zuad            :  Kawin, Nikah
Harman          :  Cinta, suka
Sayaroh         :  Mobil
Walidi          :  Ayah
Walidati        :  Ibu
Sahi            :  Teh
Ya Khannu       :  Sok-sok an
Sughul          :  Kerja
Hatta           :  Walaupun
Katsir          :  Banyak 
Reja'           :  Pulang
Regud           :  Tidur
Na'am           :  Iya
Softoh          :  Bercanda
Sohib           :  Teman
Sugur           :  Anak kecil
Rokhis          :  Murah
Srob            :  Minum
Syukron, Maskur :  Makasih
Walhasil        :  Akhirnya
Yu'kul          :  Makan
Ju'             :  Lapar
Afdol           :  Mantep
Fulus           :  Uang
Ajus            :  Nenek
Lebaik, beik    :  Dalem (nyahut panggilan)
Jiran           :  Tetangga
Sholi           :  Sholat
Khoyir          :  Baik
Sekut           :  Diam
Kalam           :  Berbicara
Ballas          :  Gratis
Miah            :  Seratus
Kaslan          :  Malas
Syatir          :  Pintar
Bi sur'ah       :  Buruan dong
Hawi            :  Pacar, kekasih
Laham           :  Daging
Fulan           :  Nama buat orang yang tidak diketahui namanya
Khaya'          :  Malu

Rabu, 06 September 2017

Lirik Ya Habibal Qolbi - MD Ubaidillah dan M Fajar Shodiq

يا حبيب القلب

يا حبيب القلب # يا خير البرية

يا لي جئت بالحق # رسول الهداية

يا رسول الله يا حبيب الله

يوم الولادة كالبداية # للهداية كالبداية

إن تجد يا طه بالنور # الهداية يارسول الله

جئت بدين الله جئت # مل البراية يا حبيب الله

يا بشير الخير # يا رسول الله

يا دليل النور # يا حبيب الله

Harapan yang nyata # Hidup bahagia

Cinta yang utama # Dihati selamanya

Denganmu ya Rosul # Rindu tuk bersama

PadaMu ya Robbi # Terkabul Semoga

Kaulah pujaan hati # Ya Rosulalloh..

Bersinarlah cahanya # Kekasih Alloh

Wahai sang kekasih # Insan yang terpilih

Sholawat yang tercurah # Cinta sungguh indah

Pujaan hati...

Ya Rosulalloh....

Cahaya cinta..

Kekasih Alloh.....